Rabu, 15 Februari 2012

Koloni Semut Mampu Batasi Batasi Besarnya Sebuah 'Kota'

Koloni semut bisa tumbuh besar sebelum usaha sumber daya pengangkutan
makanan menjadi semakin tinggi. Demikian disampaikan dua peneliti Dr
Martin Burd dan Andrew Bruce dari Monash University di Melbourne,
Australia, dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, Rabu
(15/2). Menurut kedua peneliti ini, semut memotong dan membawa daun ke
dalam sarangnya untuk memberi makan jamur. Jamur inilah yang nantinya
akan dimakan oleh larva semut yang sedang tumbuh. Daun tersebut dibawa
melalui jalur sepanjang 150-200 meter yang telah mereka buat pada
permukaan tanah di hutan. "Ini sama halnya dengan yang terjadi di
perkotaan, sumber daya dibawa masuk dari desa ke kota untuk diubah
menjadi produk lain," ujar Burd, ahli ekologi evolusi. Ia menambahkan
konstruksi jalan oleh semut ini mirip dengan konstruksi jalan di kota.
Semut pemotong daun membentuk koloni-koloni serangga sosial terbesar
di dunia. Beberapa di antaranya terdiri dari delapan juta semut
pekerja. Berbeda dengan halnya lebah madu yang akan membagi sarangnya
dan membentuk kawanan baru ketika mencapai 40.000 pekerja. "Itu hanya
kota kecil jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh semut
pemotong daun ini," ujar Burd. Burd dan Bruce mempelajari 18 koloni
semut pemotong daun dan jumlah daun yang dikumpulkan di Amerika
Tengah. Mereka menemukan bahwa ketika koloni tumbuh, kegiatan pekerja
untuk mencari makan berkurang. "Ketika mereka berjalan semakin jauh
dari pusat (sarang) untuk mendapatkan sumber daya, pekerjaan mereka
akan menjadi kurang efisien," ujar Burd. Walaupun tingkat beban
pekerjaan satu individu sama ketika koloni tumbuh, mereka harus
menempuh jarak yang lebih jauh untuk mengumpulkan jumlah daun yang
sama ke sarangnya. Intinya, harus ada batasan jarak suatu 'kota' semut
agar pengorbanan yang dikeluarkan untuk meraih makanan berimbang
dengan pengorbanan untuk kembali ke sarang. "Oleh karena itu ada
batasan untuk ukuran dari wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk satu
koloni."

Sumber: ABC Science dan www.nationalgeographic.co.id

0 komentar:

Posting Komentar