Minggu, 19 Februari 2012

Malu (aku) Jadi Orang Indonesia-Taufiq Ismail

I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui
dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari
Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone
namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Diamengarang tentang pertempuran
Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
TomStone akhirnya masuk West Point
Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiunperwira tinggi dari U.S.
Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku
berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalanaku di Roxas Boulevard, Geylang
Road, ebuh Tun Razak,
Berjalanaku di Sixth Avenue, Maydan
Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan
Mesopotamia
Disela khalayak aku berlindung di
belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya
di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terangcurang susah dicari
tandingan,
Dinegeriku anak lelaki anak perempuan,
kemenakan, sepupu
dan cucudimanja kuasa ayah, paman dan
kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak
perlu malu,
Dinegeriku komisi pembelian alat-alat
berat, alat-alat ringan,
senjata,pesawat tempur, kapal selam,
kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Dikedutaan besar anak presiden, anak
menteri, anak jenderal,
anaksekjen dan anak dirjen dilayani
seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Dinegeriku penghitungan suara pemilihan
umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuanbesar-besaran tanpa seujung
rambut pun bersalah perasaan,
Di negerikukhotbah, surat kabar, majalah,
buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supayaberdiri pusat belanja modal
raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid
dan syahidah,
ciumlahharum aroma mereka punya
jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelakperencana dan pembunuh itu di
dasar neraka
olehsatpam akhirat akan diinjak dan
dilunyah lumat-lumat,
Dinegeriku keputusan pengadilan secara
agak rahasia
dantidak rahasia dapat ditawar dalam
bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hariakan masuk Bursa Efek Jakarta
secara resmi,
Dinegeriku rasa aman tak ada karena
dua puluh pungutan,
limabelas ini-itu tekanan dan sepuluh
macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-
mata kelebihan kerja,
fotokopi gosipdan fitnah bertebar disebar-
sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karenasebagian sangat kecil bangsa
kita
tak pernah bersedia menerima skor
pertandingan
yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan
antarbangsa,
lagipula Piala Dunia itu cuma urusan
negara-negara kecil
karenaCina, India, Rusia dan kita tak
turut serta,
sehinggacukuplah Indonesia jadi penonton
lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
danpenyiksaan rakyat terang-terangan di
Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke
pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Dinegeriku budi pekerti mulia di dalam
kitab masih ada,
tapidalam kehidupan sehari-hari bagai
jarum hilang
menyelamdi tumpukan jerami selepas
menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku
berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalanaku di Roxas Boulevard, Geylang
Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalanaku di Sixth Avenue, Maydan
Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan
Mesopotamia
Disela khalayak aku berlindung di
belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar