Tampilkan postingan dengan label Pemerintah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemerintah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2012

Sejarah Lurik



Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garisgaris, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000).

Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.


Nama motifnya diperoleh dari nama flora, fauna, atau dari sesuatu benda yang dianggap sakral. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Namun demikian saat ini pengguna lurik semakin sedikit dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Perajinnya pun dari waktu ke waktu mulai menghilang.

Lurik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang.
Kata lurik berasal dari akar kata rik yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalurjalur, sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Jawa(Mangunsuwito:20 02) pengertian lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek, yang berarti garis-garis dalam bahasa Indonesia.

Dan berbagai definisi yang telah disebutkan di atas, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lurik merupakan kain yang diperoleh melalui proses penenunan dari seutas benang (lawe) yang diolah sedemikian rupa menjadi selembar kain katun. Proses yang dimaksud yaitu diawali dari pembuatan benang tukel, tahap pencelupan yaitu pencucian dan pewarnaan, pengelosan dan pemaletan, penghanian, pencucuk-an, penyetelan, dan penenunan. Motif atau corak yang dihasilkan berupa garis-garis vertikal maupun horisontal yang dijalin sedemikian rupa sesuai warna yang dikehendaki dengan berbagai variasinya.
Tidak banyak ditemui tulisan mengenai kain tenun lurik. Hanya ada beberapa saja, antara lain yang ditulis oleh Nian S.Djoemena dalam bukunya yang berjudul Lurik, Garis-garis Bertuah. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai proses pembuatan kain lurik beserta alat yang digunakan. Selain itu, diuraikan pula mengenai macam macam motif lurik, makna, waktu pemakaian, dan fungsinya secara garis besar terutama dalam acara ritual keagamaan dan dalam upacara perkawinan. Lurik yang diuraikan dalam buku tersebut tidak hanya terbatas pada motif lurik Yogyakarta, ada pula motif Jawa Tengah dan Tuban, ada pula motif irip lurk yang terdapat di luar Jawa maupun Juan Indonesia.

Namun, buku ini belum menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan lurik saat ini dan usaha pelestariannya. Kain lurik merupakan kain tenun dengan motif garisgaris pada sehelai kain. Kata Lurik berasal dari bahasa Jawa yaitu lorek yang berarti lajur atau garis (Djoemena, Nian.S: 2000). Namun pakaian atau kain dengan motif lorek tidak dapat secara langsung disebut lurik, karena lurik harus memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bahan tertentu dan diolah melalui proses tertentu pula, mulai dari pewarnaan, pencelupan, pengkelosarf, pemaletan, peghanian, pencucukan, penyetelan, sampai pada penenunan, hingga nantinya menjadi kain yang slap dipakai.

Motif kain lurik ternyata tidak hanya berupa garis-garis membujur saja, tetapi dalam perkembangannya kemudian, motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi antara garis melintang dengan garis membujur dapat dikategorikan sebagai lurik.

Tidak hanya berupa garis, motif kain lurik ada juga yang berupa kotak-kotak yang merupakan perpaduan dua garis vertikal dan horisontal yang pada kain tenun yang bercorak garis atau kotak saja, akan tetapi termasuk pula kain polos dengan berbagai warna, seperti merah dan hijau atau dikenal dengan nama lurik polosan. Seperti apa yang diungkapkan Dibyo bahwa “Sifat lurik yaitu: bahannya dari katun, gambar garis, tetapi kadang bikin kotak-kotak, ataupun polos. Meskipun polos, namanya tetap lurik.”

Nilai Kehidupan
Salah satu keunggulan manusia adalah bahwa ia memiliki daya kreatif untuk membuat, membentuk apa yang ada di sekelilingnya, kemudian diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Daya kreativitas tersebut merupakan bagian yang penting dalam proses berkarya seni. Seni merupakan kegiatan kreatif imajinasi manusia untuk menerangkan, memahami, dan menikmati kehidupan (Haviland:1993). Dengan daya kreatif yang dimilikinya, manusia berusaha menciptakan pakaian yang dibuat dari kapas atau bahan lain, kemudian ditenun menjadi kain. Kain dijahit menjadi pakaian.

Seni memiliki tujuan praktis. Tujuan praktis ini merupakan guna atau manfaat yang diperoleh secara langsung bagi penggunanya. Tujuan praktis dari pakaian yaitu untuk melindungi tubuh dari hawa dingin, gigitan serangga, terik matahari dan berbagai gangguan lainnya. Selain itu seni memiliki fungsi sebagai norma perilaku yang teratur, meneruskan adat kebiasaan dan nilai-nilai budaya (Haviland:1993). Dalam adat berpakaian, seperti dalam penggunaan kain lurik, terdapat nilai budaya yang akan disampaikan dan untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya.

Pada suatu masyarakat tradisional, selain memiliki fungsi guna atau manfaat, pakaian seringkali memiliki fungsi lain seperti fungsi status simbol, maupun ritual keagamaan, pada motif- motif tertentu terdapat kandungan nilai, harapan, dan sebagainya.

Orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi berbeda pakaiannya dengan orang yang status sosialnya lebih rendah, pakaian yang dikenakan seorang bangsawan berbeda dengan rakyat biasa, entah itu berbeda model maupun motifnya. Begitu pula pakaian yang dipakai untuk upacara tertentu berbeda dengan yang dipakai pada hari biasa.

Sesuai dengan keanekaragaman umat manusia, pakaian yang digunakan juga bermacam-macam dan bervariasi. Pada masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisinya seperti yang terdapat pada kelompok-kelompok suku bangsa di Indonesia, pakaian yang digunakan menunjukkan identitas dari suatu suku bangsa.

Dalam hal ini pakaian bukanlah semata-mata sebagai suatu benda materi yang hanya dipakai tanpa memiliki arti apapun. Kain lurik misalnya, merupakan suatu simbol karena ia memiliki makna. Simbol merupakan tanda yang dapat ditafsirkan (Geertz:1992,17) atau diekplanasikan. Makna-makna tersebut merupakan sesuatu yang tidak tampak tetapi dapat dilihat melalui penafsiranpenafsiran, pemahaman-pemahaman yang kemudian ditata sedemikian rupa. Simbol merupakan segala sesuatu (benda, peristiwa, tindakan, ucapan, dan sebagainya) yang telah ditempeli arti tertentu. Simbol bukan milik individu, namun milik suatu kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat tersebut terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki sistem pengetahuan, gagasan, ide, adat kebiasaan serta norma perilaku yang sama, yang diungkapkan dalam tata cara kehidupan manusia yang terwujud dalam benda-benda budaya.

Kain tenun lurik merupakan salah satu benda budaya karena dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu. Benda ini merupakan wujud fisik dari ide, nilai, maupun norma yang mengatur dan memberi arah bagi masyarakat pada suatu kebudayaan tertentu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Koentjaraningrat (2000) bahwa terdapat tiga wujud kebudayaan, yaitu norma sebagai tata kelakuan yang mengatur dan memberi arah, aktivitas yang berpola, dan benda hasil karya manusia sebagai wujud fisiknya.

Manusia tidak dapat terlepas dari simbol, karena manusia adalah binatang yang terjerat dalam jaringan-jaringan makna yang ditenunnya sendiri (Geertz:1992). Di setiap waktu dan disegala tempat, manusia selalu berhubungan dengan simbol atau lambang karena is berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapanungkapan simbolis (Herusatoto: 1987). Simbol atau lambang ini merupakan hal yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Menurut Ernst Cassirer (1944) bahwa manusia tidak dapat melihat„ menemukan, dan mengenai dunia secara langsung tetapi melalui berbagai simbol.

Simbol yang terwujud dalam benda-benda budaya, dalam hal ini adalah kain tenun lurik merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Melalui kain lurik ini terdapat pesan, nasihat dan panduan hidup yang disampaikan dan diharapkan nantinya dapat terus diteruskan ke generasi selanjutnya. Terdapat beberapa hal mengenai simbol seperti ditulis oleh C.A Van Peursen (1976), bahwa simbol atau lambang memperlihatkan kaidah dalam perbuatan manusia. Kaidah itu berhubungan dengan seluruh pola kehidupan, perbuatan, dan harapan manusia. Simbol muncul ketika manusia sedang belajar dan untuk menampung hasil belajarnya manusia menggunakan media bahasa, baik bahasa lisan, tulisan, gerak, maupun visual.

Pengetahuan yang diperoleh manusia dari hasil belajar semakin lama semakin bertambah. Untuk mempermudah penyerapan pengtahuan yang semakin banyak tersebut, bahasa kemudain dialihkan menjadi lambang, simbol abstrak. Pengertian bahasa disini menjadi meluas meliputi berbagai bentuk lambang berupa tarian, gambar, kata, maupun isyarat. Lambang yang diungkapkan melalui media bahasa ini digunakan dalam rangka meneruskan, mewariskan ajaran kepada generasi setelahnya. Dari simbol yang terdapat pada kain lurik ini dapat ditemukan harapan, ungkapan, pelajaran positif yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya dalam menentukan langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Meskipun saat ini tidak banyak lagi yang mengetahui apa makna dibalik motif lurik, namun ada sebagian orang yang berusaha bertahan untuk membuat dan mengenakannya baik dalam acara-acara tertentu, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah Lurik
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) disebutkan bahwa lurik diperkirakan berasal dari daerah pedesaan di Jawa, tetapi kemudian berkembang, tidak hanya menjadi milik rakyat, tetapi juga dipakai di lingkungan keraton. Pada mulanya, lurik dibuat dalam bentuk sehelai selendang yang berfungsi sebagai kemben (penutup dada bagi wanita) dan sebagai alat untuk menggendong sesuatu dengan cara mengikatkannya pada tubuh, sehingga kemudian lahirlah sebutan lurik gendong.

Dan beberapa situs peninggalan sejarah, dapat diketahui bahwa pada masa Kerajaan Majapahit, lurik sudah dikenal sebagai karya tenun waktu itu. Bahwa lurik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lampau, dapat dilihat dari cerita Wayang Beber yang menggambarkan seorang ksatria melamar seorang putri Raja dengan alat tenun gendong sebagai mas kawinnya. Keberadaan tenun lurik ini tampak pula dalam salah satu relief Candi Borobudur yang menggambarkan orang yang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Selain itu adanya temuan lain, yaitu prasasti Raja Erlangga dari Jawa Timur pada tahun 1033 menyebut kain Tuluh Watu sebagai salah satu nama kain lurik (Djoemena, Nian.S:2000).

Pada awalnya, motif lurik masih sangat sederhana, dibuat dalam warna yang terbatas, yaitu hitam, putih atau kombinasal antarkeduanya. Pada jaman dahulu proses pembuatan tenun lurik ini dimulai dari menyiapkan bahan yaitu benang (lawe).

Benang ini berasal dari tumbuhan perdu dengan warna dominan hitam dan putih. Selanjutnya, benang tadi diberi warna dengan menggunakan pewarna tradisional, yaitu yang bernama Tarum) dan dari kulit batang mahoni. Hasil rendaman daun pohon Tom menghasilkan warna nila, biru tua, dan hitam, sedangkan kulit batang mahoni menghasilkan warna coklat.


Sebelum ditenun, benang dicuci berkali-kali, kemudian dipukul-pukul hingga lunak (dikemplong), setelah itu dijemur, lalu dibaluri nasi dengan menggunakan kuas yang terbuat dari sabut kelapa. Setelah bahan atau benang ini kaku, kemudian diberi warna. Setelah itu dijemur kembali dan benang siap untuk ditenun. Dahulu, alat yang digunakan untuk menenun dikenal dua macam alat, yaitu alat tenun bendho dan alat tenun gendong.

Adapun alat tenun bendho terbyat dari bambu atau batang kayu, biasanya digunakan untuk membuat stagen. Stagen yaitu ikat pinggang dari tenunan benang yang sangat panjang dan digunakan untuk pengikat kain (jarik) oleh para wanita Jawa. Alat tenun ini digunakan dengan posisi berdiri. Disebut sebagai alat tenun bendho karena alat yang digunakan untuk merapatkan benang pakan berbentuk bendho (golok), sedangkan alat tenun gendong digunakan untuk membuat bahan pakaian, selendang lebar, maupun jarik (kain panjang). Disebut demikian karena salah satu bagiannya diletakkan di belakang pinggang, sehingga tampak seperti digendong. Dalam proses pembuatan kainnya, penenun dalam posisi duduk memangku alat tenun tersebut.

Dahulu, kain lurik dipakai hampir oleh semua orang, sebagai busana sehari-hari. Untuk wanita dibuat kebaya, atau tapih/nyamping/jarik (kain untuk bawahan). Untuk pria, sebagai bahan baju pria, di Solo disebut dengan beskap, sedangkan di Yogyakarta dinamakan dengan surjan. Selain itu, lurik juga dibuat selendang (jarik gendong) yang biasanya dipakai oleh bakul (pedagang) di pasar untuk menggendong tenggok (wadah yang terbuat dari anyaman bambu), terutama di daerah Solo dan Klaten Jawa Tengah. Selain dibuat untuk bahan pakaian ataupun selendang, yang lebih penting lagi bahwa kain lurik ini dahulu digunakan dalam upacara yang berkaitan dengan kepercayaan, misalnya labuhan ataupun upacara adat lain seperti ruwatan, siraman, mitoni, dan sebagainya.

Beberapa Macam Corak Lurik
Meskipun motif lurik ini hanya berupa garisgaris, namun variasinya sangat banyak. Terdapat banyak ragam motif kain lurik tradisional, seperti yang ditulis oleh Nian S.Djoemena (2000) mengenai nama-nama corak, yaitu antara lain: corak klenting kuning, sodo sakler, lasem, tuluh watu, lompong keli, kinanti, kembang telo, kembang mindi, melati secontong, ketan ireng, ketan salak, dom ndlesep, loro-pat, kembang bayam, jaran dawuk, kijing miring, kunang sekebon, dan sebagainya.


Dalam Ensiklopedi Indonesia (1997) di-sebutkan pula beberapa motif seperti ketan ireng, gadung mlati, tumenggungan, dan bribil. Dalam perkembangannya muncul motif- motif lurik baru yaitu: yuyu sekandang, sulur ringin, lintang kumelap, polos abang, polos putih, dan masih banyak lagi. Motif yang paling mutahir adalah motif hujan gerimis, tenun ikat, dam mimi, dan galer.

Dahulu macam ragam corak lurik sangat banyak, tetapi sekarang banyak yang sudah terlupakan. Tidak semua orang termasuk para perajin lurik yang ada sekarang ini tahu dan ingat motif apa saja yang pernah ada, seperti yang dialami oleh Pak Dibyo. Saat ini perusahaan tenun lurik seperti milik Bapak Dibyo Sumarto, yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia tidak membuat motif lurik seperti yang disebutkan di atas, karena peminatnya tidak ada lagi. Motif-motif lurik yang sekarang dibuat lebih bervariasi, disesuaikan dengan warna-warna yang sedang disukai atau sedang trend. Jadi, motif atau corak lurik yang ia buat cenderung selalu berubah dan makin berkembang.

Beberapa motif disesuaikan dengan yang dikehendaki oleh para pembeli. Begitu pula dengan perusahaan tenun lurik yang dikelola oleh Ibu Nur. Beliau bahkan tidak banyak membuat motif tenun jika tidak ada pesanan. Beberapa kain lurik ia buat saat ini lebih banyak untuk seragam sekolah dan selendang. Begitu pula dengan perusahaan tenun Kurnia yang lebih banyak mendapatkan pesanan dari sekolah-sekolah yang membutuhkan seragam. Selain itu pembelinya kebanyakan dari siswa sekolah yang sedang praktek tata busana.

Namun demikian, perusahaan tenun ini masih membuat beberapa kain lurik tradisional yang masih dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, yaitu yang dipakai di lingkungan keraton seperti yang dikenakan oleh para abdi dalem dan para prajuritnya.

Motif yang dipakai para abdi dalem kerajaan tersebut dinamakan corak telu-pat atau tiga empat dalam bahasa Indonesia. Pakaian dengan motif ini dinamakan baju peranakan. Baju ini dikenakan oleh mereka ketika sowan atau caos (menghadap raja). lain kluwung, gedog madu, sulur ringin, atau tuluh watu. Selain itu, ada pula motif lurik lain yang juga hanya digunakan oleh orang-orang tertentu pada waktu tertentu pula, yaitu yang dikenakan oleh abdi dalem dan para punggawa keraton. Ketika menghadiri pisowanan (mengahadap raja), para abdi dalem memakai baju peranakan dengan motif telu pat, sedangkan para prajurit keraton masingmasing juga memakai motif lurik yang telah ditentukan. Prajurit Jogokaryan memakai motif Jogokaryo, prajurit Mantrijeron memakai motif mantrijero, begitu pula dengan prajurit Patangpuluhan memakai motif patangpuluh.

Seperti yang diutarakan oleh Pak Dibyo bahwa “Motif keraton memang memiliki corak tersendiri. Ada yang me-namakannya lurik tiga empat, untuk para abdi dalem. Nama motifnya yaitu tiga empat, untuk per-anakan…prajurit keraton antara lain mantrijero, jogo-karyo, patangpuluh. Motifnya sendiri-sendiri. Motif untuk abdi dalem untuk caos atau sowan yaitu motif tiga empat.”
Motif lurik untuk prajurit kraton lainnya adalah motif ketanggung yaitu yang dikenakan oleh prajurit Ketanggungan. Mengenai motif yang tidak boleh dipakai oleh setiap orang dikatakan oleh Ibu Nur, “Ya seperti yang dipakai oleh para abdi dalem, peranakan, hanya dipakai oleh kalangan keraton. Tidak bisa dipakai umum.”

Namun saat ini, menurut apa yang dituturkan oleh Pak Dibyo, bahwa para pembeli bebas memilih motif mana yang dikehendaki. Pembeli boleh memakai kain lurik dengan berbagai macam corak, entah itu yang semestinya di pakai untuk sowan atau caos, ataupun yang digunakan untuk prajurit keraton.
Untuk saat ini, biasanya motif lurik yang tidak boleh dikenakan atau dijual untuk umum yaitu yang dipakai untuk seragam sekolah, karena motif tersebut sudah merupakan identitas atau ciri khas sekolah yang bersangkutan.

Lurik Masa Kini 
Tidak seperti beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini tidak banyak masyarakat yang menaruh minat pada lurik terutama untuk dikenakan sebagai busana sehari-hari. Hal ini tampak pada surutnya jumlah pesanan di beberapa perusahaan tenun lurik yang ada di Yogyakarta. Bahkan di beberapa tempat, perusahaan tenun lurik tradisional banyak yang gulung tikar. Seperti yang terjadi di daerah Krapyak Wetan.

Dahulu, di sekitar wilayah tersebut banyak rumah atau tempat produksi tenun lurik, namun sekarang yang tertinggal hanya satu yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia yang dimiliki Bapak Dibyo. Menurut cerita masyarakat setempat, di dusun Mlangi, Kabupaten Sleman pernah berdiri perusahaan tenun lurik tradisional, tetapi saat ini sudah tidak ada lagi. Beberapa tempat lain yang diperkirakan masih terdapat tempat pembuatan tenun lurik, yaitu di dusun Nggamplong, Godean, Sleman, atau di beberapa tempat di Kabupaten Kulonprogo.

Dahulu di sana banyak ditemui perusahaan tenun lurik, namun sekarang jika masih ada jumlahnya sangat sedikit. Menurut beberapa orang, berbagai macam motif yang dulu pernah dibuat, sekarang sudah tidak dibuat lagi karena peminatnya pun sudah tidak ada. Banyak perajin di perusahaan tenun tradisional yang sudah berusia lanjut, tetapi tidak ada regenerasi perajin untuk meneruskan keahliannya tersebut.
Saat ini orang lebih memilih pekerjaan lain dari pada menenun. Dahulu, ketika seorang perajin menenun, ketika ada waktu senggang ia minta anaknya untuk ikut menenun. Si anak diberi pelajaran sedikit demi sedikit, sehingga lama kelamaan ia bisa meneruskan pekerjaan orang tuanya. Tetapi saat ini hal ini sudah sulit dilakukan. Generasi muda tidak lagi mau menenun, lebih memilih pekerjaan lainnya.

Kondisi ini mendorong seorang mendorong beberapa desainer seperti Ninik Darmawan, kelompok Lawe, PPPPTK Seni dan Budaya untuk mengembangkan produk tekstil dengan bahan dasar lurik untuk diangkat kembali menjadi produkproduk modern, yang tidak hanya terbatas untuk pakian saja, tetapi lurik dijadikan sebagai bahan tas, dompet, map, dan lain sebagainya. Untuk busana desainer Ninik Darmawan telah mengembangkan beberapa fashion seperti gaun panjang, kemeja pria, rok, jaket, dan sebagainya. Beberapa pakaian merupakan gabungan motif lurik dengan kain batik.

Ninik mengembangkan kain tenun lurik tersebut karena kain yang bercorak garis-garis ini memiliki nilai kesederhanaan. Kain yang tebuat dari bahan katun tersebut sebenarnya juga sangat cocok dengan iklim di Indonesia. Tetapi memang kesan bahwa lurik merupakan pakaian rakyat cukup kental. Apa yang hendak disampaikannya melalui setiap desainnya yaitu bahwa motif lurik ini sebenarnya dapat dikembangkan dan dapat dikenakan di berbagai tempat dan waktu. Menurutnya dengan sentuhan desain, kain tersebut dapat diolah, dikembangkan, dijadikan busana masa kini, tanpa merubah arti atau makna yang terkandung di dalamnya.

Produk-produk tekstil dari bahan lurik dengan desain baru yang indah, tidak kalah menariknya apabila dibandingkan dengan busana-busana dari bahan batik atau bahan lainnya. Ternyata lurik menyimpan kekuatan yang begitu dahsyat, sebagai bagian dari kehidupan masa kini. Apa yang dilakukan Ninik Darmawan, Lawe, dan PPPPTK Seni dan Budaya sebagai suatu bentuk transformasi budaya, yang mengangkat budaya lama Indonesia menjadi suatu budaya baru dengan tidak meninggalkan kekayaan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Tradisi bukanlah suatu barang yang mati, tetapi ia berkembang dan menjelma menjadi ujud baru mengikuti perubahan jaman. Tradisi melayani kebutuhan kehidupan manusia, sehingga tradisi harus sesuai dengan jiwa jamannya, tradisi yang tidak berubah akan menghambat perkembangan dan akan menjadi nilai atau produk yang basi.

Dengan demikian seni tradisi seperti lurik harus dapat melayani kehidupan manusia masa kini, sehingga lurik akan lebih bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan dari masa ke masa. Tulisan ini semoga memberi inspirasi kepada desainer di berbagai tempat di Indonesia, untuk mengangkat tenun daerah menjadi bagian kehidupan modern, mengingat Indonesia begitu kaya dengan berbagai macam tekstil khususnya tenun, kita akan temukan berbagai ragam tenun yangt indah sejak tanah Papua sampai dengan Nangroe Aceh Darussalam. Semoga kekayaan tersebut tidak menjadi kesepian dan mati, tetapi menjadi enerji baru yang memberi kesegaraan sebagai sebuah bangsa yang kaya dan besar..***
Sumber : Majalah ARTISTA No. 1 & 2 Vol. 10 Th. 2007

Minggu, 25 Desember 2011

Orang Pintar Minum Linux !



bil: mas bul mas bul !
bul: iya, kenapa bil?
bil: mas tau linux gak?
bul: oh linux.. enak tuh
bil: lho kok enak mas? emangnya linux itu apaan, minuman kaleng ya mas?
bul: hmm bukan.. linux itu semacam kue bolu, saya juga kurang tau sih sebenernya

Itulah percakapan singkat antara bil dan bul yang terjadi dalam khayalan saya hehehe
Coba kita perhatikan lagi percakapan antara bil dan bul diatas. Ya anda benar ! tidak lucu memang, dan saya juga di sini bukan bermaksud untuk melucu. Ada pesan yang ingin saya sampaikan melalui percakapan bil dan bul di atas, betapa mereka berdua itu adalah orang yang sangat ketinggalan jaman, hare gene gak tau linux??? cape deee hohoho (kok ngalay gini sih)
Lalu mas, apa hubungannya dengan judul posting ini, kok linux di minum sih? "nah itu dia, linux emang enak kok di minum, ada macam-macam rasa, yang paling enak ya rasa stlobeli.."
Lho kok makin ngawur, udah udah serius ah..
Berhubung masih ada orang-orang seperti bil dan bul yang belum mengenal linux, maka izinkan saya untuk bercerita tentang Linux mealui tulisan ini.. jreng jreng jreng !

Linux? Apaan sih?

           Linux pada awalnya adalah nama sebuah kernel (inti dari sebuah sistem operasi) yang di buat oleh seorang bernama Linus Benedict Torvalds (bapak linux sedunia) pada tahun 1991. Nah bapak linux sedunia ini adalah orang yang sangat baik hati dan tidak sombong, beliau mengizinkan siapa saja untuk menggunakan, mempelajari cara kerjanya, dan mendistribusikan Linux temuannya ini tanpa harus membayar sepeserpun untuk membeli lisensinya alias gratis. Kenapa bisa begitu mas? Ya karena Linux ini menggunakan Lisensi GPL (General Public License) bisa juga di sebut free software. Awalnya linux ini hanyalah sebuah kernel namun sekarang Linux juga di gunakan untuk menyebut sebuah sistem operasi lengkap yang di sebut dengan distribusi linux atau distro linux (gabungan dari sistem operasi dan beberapa aplikasi yang sudah dipaketkan dalam satu paket). Beberapa distro linux yang paling popular adalah Ubuntu, Mandriva, CentOs, OpenSuse, Debian, Fedora, Mint dan juga distro-distro linux buatan anak bangsa seperti BlankOn dan Igos Nusantara, Chayoo !

Waw ! Jadi Linux ini benar-benar 100% GRATIS ya Mas???

           Nah ini dia paradigma yang harus kita ubah ! Paradigma ini muncul karena sifat Linux yang opensource sehingga menimbulkan kesan bahwa linux itu gratisan.Oke, mari kita awali dari pengertian OPENSOURCE.
Open Source adalah istilah untuk software yang source code-nya (kode programnya) disediakan oleh pengembangnya untuk umum (terbuka) agar dapat dipelajari cara kerjanya, diubah atau dikembangkan lebih lanjut, dan disebarluaskan tanpa harus membayar lisensi. Jika pembuat program melarang orang lain untuk mengubah dan atau menyebarluaskan program buatannya, maka program itu bukan Open Source, meskipun tersedia kode programnya.

Lho bukannya itu namanya gratisan mas??? kan katanya semua orang bisa make, bisa ngembangin dan bisa nyebarin tanpa harus membayar sepeserpun untuk lisensi???

           Nah itu dia yang harus di kembalikan ke jalan yang benar. Dalam dunia linux (opensource) memang terdapat kata Free yang pada kebanyakan orang mengartikannya sebagai kata gratis. Sebenarnya anggapan itu tidak dapat di salahkan karena linux itu pada dasarnya memang gratis, tapi perlu di KETAHUI bahwa kata FREE pada linux itu berasal dari kata FREEDOM, yang artinya dalah KEMERDEKAAN/KEBEBASAN. Jadi kata Free dalam dunia linux berarti bebas, bukan gratis. Kedua kata ini, bebas dan gratis jelas memberikan makna yang berbeda. Contoh: Jika anda mendapatkan sebuah buku dari acara kick andy secara GRATIS, apakah anda bisa memodifikasi, mengcopy dan menyebarluaskannya secara BEBAS? Tidak bukan? Anda bisa di kick ke sel tahanan jika sampai melakukannya. Berbeda dengan Linux, anda sepenuhnya mendapatkan kebebasan untuk menggunakan, memodifikasi, menyebarluaskan bahkan mengkomersialkan linux kepada siapa saja selama anda tetap mentaati kaidah GPL yang berlaku (tanyakan ke om google tentang kaidah ber-GPL ini). Jadi sekali lagi saya tegaskan bahwa linux itu Bebas, bukan Gratis, karena terkadang ada suatu nilai yang harus anda bayar untuk mendapatkan linux contohnya membayar koneksi internet untuk mengunduh paket/software linux, membeli cd/dvd sebagai media. Biaya ini hanya untuk membayar layanan/media, bukan untuk membayar nilai intelektual luar biasa yang terdapat dalam "source" linux. Ya ! Nilai intelektual tanpa batas yang akan terus berkembang dengan merdeka. sekali lagi It's about Freedom, Not Free. 
Coba kita bayangkan betapa bertambah Merdekanya bangsa kita jika linux di jadikan standar. Berapa banyak anggaran pemerintah yang bisa di hemat daripada harus membayar mahal lisensi untuk tiap-tiap komputer di kantor, sekolah, maupun komputer para oknum pemerintahan? bukankah masyarakat dapat memperoleh software-software dengan bebas tanpa harus membajak? bukankah para pelajar bebas mengotak-atik sebuah software untuk di sesuaikan dengan kebutuhannya? bukankah anak-anak bangsa menjadi lebih kreatif untuk terus mengenbangkan dan menciptakan software-software baru ala indonesia? bukankah negara ini akan lebih maju? saya yakin jawabannya adalah YA !

 Waah Linux ternyata keren ya mas. Tapi pasti saya bakal kesulitan kalo pake linux mas, orang-orang aja pada bilang linux itu susah..

          "Kalo kamu bilang Linux itu keren saya sangat setuju sekali, linux itu memang nenek moyangnya si keren. Tapi kalo kamu bilang make linux itu susah ya saya ndak setuju. Cukup kakek buyutnya kakek saya saja yang hidup susah di jaman penjajahan dulu, saya ndak mau susah lagi hidup di jaman yang MERDEKA ini" ah ngelantur, ayo serius lagi

Saya punya pikiran bahwa "orang yang takut menggunakan linux karena menganggapnya sesuatu yang rumit dan susah adalah orang yang takut untuk menjadi pintar"
Ketika telah mencobanya, saya yakin anda akan sependapat dengan saya. Anggapan linux itu susah yang masih ada di pikiran sebagian masyarakat sebenarnya benar-benar tidak berlaku lagi hari ini. Beda halnya jika anda hidup di tahun 90an dimana linux itu adalah mainan para hacker dan orang-orang tertentu saja, yang mana di monitornya hanya terdapat layar hitam putih dengan sederetan kode-kode yang rumit. Jika begini dapat di benarkan bahwa linux itu susah untuk di gunakan oleh para awam. Tapi Linux hari ini telah sangat jauh berbeda, dengan tampilan grafis (GUI) yang sudah sangat user friendly untuk di gunakan oleh awam. Selain itu ada banyak lagi kemudahan-kemudahan yang bisa anda peroleh jika anda memakai linux, mulai dari banyaknya situs-situs di internet yang menyediakan distribusi linux yang bisa anda peroleh dengan bebas, beragamnya software-software yang bisa anda unduh tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli lisensi, dan dukungan komunitas yang ada di forum-forum/milis yang memudahkan anda untuk bertanya, belajar bersama, mencari solusi untuk memecahkan masalah yang anda hadapi ketika menggunakan linux.

JANGAN TAKUT MENGGUNAKAN LINUX, JANGAN TAKUT UNTUK MENJADI ORANG PINTAR !
TUNGGU APALAGI? BURUAN PAKAI LINUX !

Sumber : ini

Kampus Perjuangan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Mendengar namanya saja, kita tahu Institut ini terkenal dengan jiwa kepahlawanannya. Memang benar, Institut ini didirikan oleh Dr. Angka Nitisastro dan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 nopermber 1957 dengan tujuan menjadi kampus yang melahirkan engineer – engineer tangguh untuk mempercepat pembangunan bangsa. Nama Sepuluh Nopember mengingatkan kita untuk melihat jiwa pahlawan dari semangat juang arek – arek surabaya dalam mengusir penjajah. Institut Teknologi Sepuluh Nopember sejak awal berdiri sampai sekarang telah menjadi icon sekaligus pusat dari sains dan teknologi di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Institut Teknologi Sepuluh Nopember telah melahirkan engineer – engineer yang ahli dalam bidangnya.
Kampus ITS yang terletak di Sukolilo, surabaya menempati areal seluas 180 hektar dengan luas bangunan seluruhnya kurang lebih 150.000 m2, ini merupakan kampus teknik terbesar di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara hanya kalah 3 hektar saja dengan Universitas Gajah Mada, lagi – lagi ini menandakan bahwa ITS merupakan kampus teknik terbaik di negeri ini dengan fasilitas yang begitu lengkap. Selain itu terdapat Kampus Manyar yang dipergunakan oleh Program D-3 Teknik Sipil dengan luas bangunan 5.176 m2 dan Kampus ITS Cokroaminoto yang dipergunakan untuk magister manejemen serta beberapa lembaga kerjasama dengan luas bangunan 4.000 m2.
Hampa rasanya jika menulis tentang ITS tanpa disertai hal apa saja yang ada didalamnya. ITS mempunyai 5 fakultas. Mulai dari fakultas terbesar di ITS, Fakultas Teknologi Industri (FTI) di dalamnya terdapat 9 jurusan yaitu Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Fisika, Teknik Kimia,Teknik Material dan Metalurgi, D3 Teknik Elektro, D3 Teknik Mesin, D3 Teknik Kimia. Kemudian disusul oleh Fakultas Teknologi Sipil dan Perencanaan (FTSP) yang didalamnya ada Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, Teknik Arsitektur, Teknik Geomatika, Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Desain Produk, D3 Teknik Sipil. Ada lagi Fakultas Teknologi Kelautan ( FTK ) yang didalamnya ada Teknik Perkapalan, Teknik Kelautan, Teknik Sistem Perkapalan, Teknik Transportasi Laut. Ada Fakultas Teknologi Informasi ( FTIf) yang didalamnya Cuma terdapat 2 jurusan yaitu Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Dan Terakhir ada FMIPA ( Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ) yang terdapat 5 jurusan yaitu Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan Statistika.
Jika dilihat secara kualitas keseluruhan Jurusan di ITS mempunyai Akreditasi A dan hanya ada 2 yang bisa seperti itu yaitu ITS dan Institut Teknologi bukan ITS yang ada dibandung sana. Jika dilihat dari segi kualitas lulusannya, lulusan ITS merupakan salah satu lulusan PTN yang paling dicari oleh perusahaan besar, bahkan sebelum lulus pun 30 % sudah diterima diberbagai perusahaan, pokoknya tidak bakalan ada lulusan ITS yang menganggur. Jika dilihat dari kesuksesan Alumni, jangan ditanya lagi hampir semua jajaran direksi perusahaan BUMN dan Swasta pasti salah satunya alumni ITS. Jika dilihat dari pengusaan teknologinya, tetap ITS nomor satu di Indonesia, bisa dilihat 11 tahun terakhir ini kompetisi Robot Indonesia direbut oleh ITS, ajang bergengsi Mesin se-Asia yaitu Shell Eco marathon, 2 tahun berturut – turut ITS jadi nomer satu mengalahkan institut lainnya di Asia, dan baru – baru ini kompetisi paling bergengsi Teknik Kimia di dunia Internasional, ITS mendapatkan peringkat 3 dibawah Germany. Ini menandakan bahwa ITS rajanya Teknologi di Indonesia. jika dilihat dari Prestasinya, saya rasa semua orang tahu bahwa ITS adalah penguasanya, dalam 2 tahun terakhir hampir semua kompetisi bergengsi tingkat nasional dan internasional di raih oleh ITS. Mulai dari PIMNAS mendapatkan peringkat 2, KRI ( kontes Robot Indonesia ) juara 2, Kontes Roket Nasional (KRN) dapat juara 1, 2 dan 3, kemudian Kontes Jembatan Indonesia (KJI) juara 2, Gemastik (Kompetisi Ftif) dapat juara Umum dan masih banyak lagi, mungkin bisa dibandingkan prestasi satu mahasiswa ITS bisa melebihi prestasi satu fakultas di PTN daerah barat sana. Dan satu hal lagi bahwa ITS didirikan untuk membangun dunia Industri kita untuk kesejahteraan bangsa dan negara.
Inilah hanya sedikit yang bisa saya tuliskan untuk ITS, dan masih teriang – iang perkataan salah satu mahasiswa berprestasi di ITS yang mengatakan bahwa “ITS kok dilawan”, ini mengingatkan saya bahwa ITS merupakan pusatnya ilmu teknologi di Indonesia tanpa ada tandingannya dan pernah Prof.Muhammad Nuh ( Mantan Rektor ITS dan sekarang menjabat Mendikbud ) mengatakan saya melihat prestasi ITS beberapa tahun terakhir ini, jika Bangsa ini maju dan besar 10 – 20 tahun yang akan datang, yang patut diberikan apresiasi adalah mahasiswa ITS.
Vivat !!!
Hidup ITS..Hidup ITS..hidup ITS..


Sumber : KMKS

Sabtu, 17 Desember 2011

Profil Dahlan Iskan


Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLNsejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negaramenggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.
Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.
Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati (catatan tersebut dapat dibaca di Pengalaman Pribadi Menjalani Tranplantasi Liver) pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang penglaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi cangkok hati di Cina.
Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.
Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.
Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.
Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.
Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC)yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong. Dengan panjang serat optik 4.300 kilometer
Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.
Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.

Sabtu, 12 November 2011

SEA Games 26th of 2011 in Indonesia


Indonesia SEA Games 2011 will be held in 11 days from November 11, 2011 - November 22, 2011 in two host cities, Palembang and Jakarta with 542 gold medals to be competed through 44 sports.

Indonesia is set to host the 2011 SEA Games in the SEA Games Federation Council Meeting in Bangkok, Thailand 6 September 2006. This year is the fourth time for Indonesia to be host country for Southeast Asian countries sports festival after in SEA Games X 1979, SEA Games XV 1987, dan SEA Games XIX 1997.

As the main host, Palembang will concentrate the game in Jaka Baring Sports Complex which covers an area of 45 thousand square meters and also at the sports center Gelora Sriwijaya Palembang.

Kamis, 03 November 2011

Film Terbaru Mr. Bean [Johnny English Reborn]


Rowan Atkinson yang akrab dengan nama Mr. Bean kembali beraksi dalam film terbarunya berjudul Johnny English Reborn. Film yang menceritakan tentang agen rahasia ini merupakan sequel dari film berjudul Johnny English, yang sukses pada 8 tahun yang lalu.
Sekuel kedua Johnny English ini disutradarai oleh Oliver Parker dan Rowan Atkinson dipilih kembali menjadi pemeran utamanya. Selain Rowan Atkinson, film ini juga

KASKUS Melek Hukum

Di KASKUS mulai hari ini ada forum baru yang namanya “Melek Hukum” (http://www.kaskus.us/forumdisplay.php?f=594). Hah? Melek Hukum ? Terus isi forumnya apa aja ?

Forum Melek Hukum adalah forum yang dibuat oleh 
KASKUSbekerja sama hukumonline.com. Forum Hukum online ini bakalan memfasilitasi Agan – agan untuk berdiskusi dan bertukar cerita mengenai kasus – kasus yang pernah dialami agan atau temen, atau tante atau keponakan hehehe pokoknya siapa aja deh yang kira – kira agan penasaran apakah dilindungi sama undang – undang atau tidak, dan gimana sanksi hukum yang berlaku.

Eits, Agan gak usah males – malesan dan menganggap forum ini bakalan jadi forum yang kaku and bikin membosankan seperti saat kita lihat seorang hakim atau pengacara lagi bacain berita acara yang tebelnya buju buneng. Di sini bakalan dibahas juga mengenai masalah –


Kamis, 27 Oktober 2011

Sejarah Sumpah Pemuda


Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda.Rapat Pertama, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.
Rapat Kedua, Gedung Oost-Java Bioscoop
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
Rapat Ketiga, Gedung Indonesisch Huis Kramat