Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

Mengingat Tsunami di Kapal Apung

Situs tsunami PLTD Apung di Gampong (Desa) Punge Blang Cut, Banda Aceh, Aceh, Senin (16/4). PLTD Apung adalah pembangkit listrik tenaga diesel lepas pantai dengan bobot 26.000 ton yang terdorong sejauh 5 km ke daratan saat tsunami 2004 silam. TEMPO/ Agung Pambudhy
TEMPO.CO, Banda Aceh - Sabtu sore itu, satu per satu pengunjung memasuki pelataran obyek wisata tsunami kapal apung, Banda Aceh. Di pintu masuk, Gibran mengawasi dan kerap memanggil para tamu, Sabtu 14 April 2012. “Jangan lupa diisi buku tamunya, nama dan dari mana,” ujar Gibran, pemandu di area itu. Wisatawan pun mengisi dan memberikan kesannya terhadap museum pengingat bencana hampir satu dekade lalu.

Wisata kapal apung memang baru dibuka kembali sejak 4 April 2012. Rehab lokasi itu dimulai Juli 2011 silam dengan dana dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Hasilnya adalah kini museum memiliki pagar dan bangunan yang lebih tertata. “Untuk sekarang, tidak dipungut biaya apa pun,” kata Gibran.

Dua pekan lalu, peresmian seusai pemugaran dilakukan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Raden Sukhyar. Sebab Kementerian tersebutlah yang banyak membantu pemugaran. Raden yang hadir untuk meresmikan didampingi oleh Pj Wali Kota Banda Aceh T. Saifuddin. “Kami berharap monumen ini dapat dijaga dan dikelola dengan baik. Kami juga sangat berterima kasih kepada Kementerian ESDM atas dukungan dan bantuannya. Semoga monumen ini bisa menjadi pusat edukasi tsunami dan tujuan wisata di kota ini,” kata Saifuddin.

Pasca-pemugaran, ternyata pengunjung terus bertambah. “Saat ini ada seratus orang pengunjung per hari, kalau hari Sabtu dan Minggu bisa lebih lagi,” ujarnya kepada Tempo.

Di sisi kiri pintu masuk, sebuah monumen pengingat tsunami berdiri. Di sana tertulis nama-nama korban tsunami dari Desa Punge Blang Cut, tempat kapal apung itu bertengger. Sebuah kapal besar yang terdampar ke tengah kota ketika tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004 silam.

Gibran yang warga setempat menyebutkan kapal itu sebagai bukti kedahsyatan tsunami. Saat tsunami datang, kapal yang difungsikan sebagai pembangkit listrik di lepas pantai itu digiring ombak raya ke tengah permukiman warga. Alhasil, berlabuhlah kapal berbobot mati 2.500 ton dengan panjang 63 meter itu ke darat. Bergeser sekitar 5 kilometer dari tempat seharusnya kapal itu berada.

Kini kapal itu telah berubah fungsi. Oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, kapal dimasukkan sebagai salah satu obyek wisata tsunami di ibu kota provinsi. Para pengunjung pun ramai datang, melihat dekat sisa tsunami dan membayangkan besarnya bencana yang datang enam tahun lima bulan lalu. “Pengelolaan dilakukan oleh Kementerian ESDM dan Pemerintah Kota Banda Aceh,” kata Gibran.

Berada di atas kapal, pengunjung akan tahu, berapa jauh kapal itu terseret arus tsunami. Sebab dari geladak setinggi 20 meter lebih akan terlihat laut dan dermaga Ulee Lheu. Sebagian kota juga terpampang dari atas sana.

Masuk ke kapal, mesin pembangkit listrik sudah tak ada lagi. Mesin itu telah dipindahkan sejak akhir 2010 silam. Saat malam, lampu-lampu dihidupkan dengan memakai arus listrik, sama seperti fasilitas penerangan ke rumah-rumah warga.

Para pengunjung tak meninggalkan kesempatan untuk berpose pada kapal apung itu. “Saya baru melihat sendiri bukti dahsyatnya tsunami Aceh. Dulunya saya hanya melihat foto-foto,” kata Desi, yang mengaku berasal dari Sumatera Selatan.

Tempat wisata itu dibuka saban hari sejak pukul 10.00 WIB sampai sekitar pukul 21.00 WIB. Malam akhir pekan, jadwalnya bisa bergeser lebih larut. Ingin ke Banda Aceh, jangan lupa singgah ke kapal apung untuk sekadar mengingat tsunami.

ADI WARSIDI

Lulusan Pariwisata Indonesia Laris Diburu Kapal Pesiar

REUTERS/Fabian Bimmer
TEMPO.CO, Jakarta – Sekolah tinggi pariwisata di Indonesia siap menggandeng universitas ternama di Inggris, Leeds Metropolitan University, untuk melebarkan sayap pariwisata di kancah internasional. Pasalnya, 52 persen dari lulusan STP laris manis diburu para pengusaha kapal pesiar dunia dan 37,5 persen lainnya berpeluang kerja di luar negeri.

“Kerja sama itu untuk mengembangkan program Msc International Tourism and Hospitality Management, yang bisa didapat hanya dalam waktu 15 bulan,” ucap I Gde Pitana, Kepala BPSD Pariwisata & Ekonomi Kreatif, di Jakarta, kemarin. Hal ini semakin menambah kepercayaan diri karena SDM Indonesia mampu berdaya saing dan memiliki nilai jual.

STP Bandung dan STP Bali pun segera menggelar ASEAN Academic Tourism Forum (AATF), yang merupakan pertemuan rutin dua tahunan yang diadakan para sekolah tinggi pariwisata di kawasan ASEAN.

“Tahun ini, Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah AATF dan kami memilih Bandung sebagai tempat kegiatan,” katanya. Selain itu, STP Bandung juga mengadakan grand recruitment yang dilakukan mulai awal Juli setiap tahunnya.

Sebagai penunjang promosi pariwisata Indonesia, dibentuk pula Pusat Kajian Kuliner Masakan Indonesia. Pusat kajian ini untuk membuat standar khusus masakan Indonesia.

“Saat ini Indonesia memiliki 1.000 jenis dan variasi kuliner yang bisa menjadi salah satu ciri khas kuliner Indonesia di mata dunia internasional,” katanya. Contohnya masakan rendang, yang telah punya nama di mata internasional.

Dengan begitu, kekayaan kuliner Indonesia dapat mendunia dan tidak hanya menjadi produk lokal. “Kami berharap, mendunianya kuliner Indonesia dapat berdampak pada meningkatnya pariwisata Indonesia,” katanya.

Pembentukan itu akan melibatkan STP Bandung, STP Bali, STP Makassar, dan STP Medan, juga para pakar kuliner Nusantara, seperti William Wongso.

AGUSLIA

Sriwedari Jadi Titik Pertama Solo Batik Carnival

Peserta Solo Batik Carnival. TEMPO/Andry Prasetyo
TEMPO.CO, Surakarta – Pengunjung Solo Batik Carnival pada 30 Juni 2012 akan diwajibkan masuk Stadion Sriwedari sebelum kirab dimulai. Di dalam stadion, panitia akan menampilkan peserta kirab dan sebuah pertunjukan.

Rampung melihat pertunjukan, kirab pun dimulai dari Stadion Sriwedari menuju Balai Kota Surakarta. Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Surakarta Widdi Srihanto kepada Tempo mengatakan nantinya masyarakat bisa menonton pertunjukan Solo Batik Carnival secara lebih maksimal di dalam stadion.

“Tiket masuknya Rp 25 ribu,” katanya, Selasa, 17 April 2012. Untuk itu, dia mengatakan tidak ada lagi panggung yang didirikan di sepanjang rute kirab. Selama ini, ada titik-titik yang dijual kepada pelaku pariwisata di Surakarta untuk dibuat panggung, lantas dijual secara eksklusif kepada tamu hotel atau wisatawan.

Widdi menambahkan, karena sudah ada lokasi pertunjukan di Stadion Sriwedari, maka panggung tidak diperlukan lagi. Oleh karena itu, kesempatan bagi masyarakat umum untuk bisa menonton jadi lebih bebas.

Sementara itu, juru bicara Hotel Novotel dan Ibis, Ika Florentina, mengaku hingga kini belum mendapat pemberitahuan seputar tidak adanya pendirian panggung di rute kirab. Manajemen hotel tahun lalu membuat panggung dengan kapasitas 200 orang.

“Rencananya, kami akan bikin panggung lagi karena permintaannya tinggi. Tahun lalu saja, kami menolak 100 peminat,” katanya. Biasanya penjualan tiket pertunjukan panggung digabung dengan kamar. Untuk Novotel dijual Rp 800 ribu dan Ibis Rp 700-an ribu. “Kalau hanya tiket menonton, kami jual Rp 150 ribu.”

Dia tetap berharap diberi kesempatan mendirikan panggung. Sebab, jika harus membawa tamu hotel ke Sriwedari, dirasakan tidak nyaman dan kesannya tidak eksklusif. “Sepertinya kurang nyaman kalau tamu harus menonton di Sriwedari,” ucapnya.

Pemilik Omah Sinten, Slamet Raharjo, punya harapan serupa. Dia ingin bisa tetap membuat panggung menonton sendiri. Tahun lalu, dia menjual paket menonton plus menginap seharga Rp 2 juta per orang. “Kalau ternyata hanya boleh menonton di Sriwedari, biar masyarakat Solo saja,” katanya. Dia mengaku kurang sreg jika harus membuat paket menonton di Stadion Sriwedari.

Widdi mengatakan pelaku pariwisata tidak perlu khawatir soal teknis menonton. Sebab di Stadion Sriwedari juga bisa mendirikan panggung menonton untuk tamu VIP. “Itu bisa didirikan. Tentunya nanti tarifnya beda,” ujarnya.

UKKY PRIMARTANTYO

Pesona Baturraden Menantang Penghobi Downhill

TEMPO/Prima Mulia
TEMPO.CO, Purwokerto - Sinar matahari tampak berusaha menerobos dedaunan pohon damar dan pinus, Kamis pagi, 12 April 2012. Tanah masih becek sisa hujan semalam, namun pemandangan lereng Gunung Slamet tetap menambah adrenalin di sirkuit downhill Loka Wisata Baturraden, Banyumas. “Cukup menantang dan pemandangan alamnya bagus,” ujar Ardiansyah, 34 tahun, penghobi downhill dari Bandung.

Ia mengaku sudah menjajal berbagai lintasan downhill di sejumlah daerah. Namun, kata dia, sirkuit Baturraden memang layak dicoba bagi penghobi baru olahraga sepeda menuruni bukit terjal itu ataupun yang sudah profesional. Kegiatan itu selain untuk berolahraga, juga untuk refreshing.

Ardiansyah datang bersama penghobi downhill lainnya yang saat ini sedang mengikuti kejuaraan nasional downhill di Baturraden. Di loka wisata, Ardiansyah mengaku mendapatkan ketenangan jiwa saat berusaha menuruni bukit dengan sepeda downhill-nya.

Ditemui terpisah, Ketua Panitia Kejuaraan Nasional Downhill Baturraden 2012, A. Parama Nugroho, mengatakan kejuaraan itu diikuti oleh sekitar 186 peserta. “Kemungkinan akan bertambah karena pendaftaran belum ditutup,” kata Parama yang juga sebagai Dewan Penasihat Unifikasi Komunitas Downhill Indonesia.

Parama mengatakan kejuaraan kali ini melombakan 14 kelas berbeda. Kelas bergengsi yang dilombakan adalah nomor main elite putra dan putri. Kelas ini hanya diikuti oleh peserta profesional yang sudah malang melintang di dunia downhill.

Ia menyebutkan trek Baturraden memiliki panjang lintasan 1,4 kilometer. Sebagian besar tanah lintasan merupakan tanah humus sehingga akan gembur jika terguyur hujan. “Trek ini memiliki tantangan tersendiri. Selain tanah humus, banyaknya pohon besar juga menjadikan peserta harus lebih konsentrasi saat melintas,” katanya.

Menurut Parama, kejuaraan ini merupakan yang pertama kali digelar. Rencananya, akan ada lima seri yang digelar.

Ia menyebutkan olahraga downhill belum begitu berkembang di Indonesia. Padahal, di tingkat Asia, atlet downhill Indonesia sudah banyak yang berprestasi.

ARIS ANDRIANTO

Kamis, 19 April 2012

Asal-usul Kebaya, dari Tradisional ke Pentas Pesta


Kebaya, menurut Ria Pentasari dalam buku Chic in Kebaya, tak bisa dipisahkan dari bangsa Arab, Tiongkok, dan Portugis. Kata kebaya dianggap berasal dari ketiga bangsa tersebut. Menurut sejarawan Denys Lombard, kata kebaya berasal dari bahasa Arab “kaba”, yang artinya pakaian. Tak mengherankan jika istilah “abaya” juga masih digunakan untuk pakaian tunik panjang khas Arab.

Sejarah kebaya bermula pada abad ke-15 Masehi. Saat itu, kebaya merupakan busana khas perempuan Indonesia, terutama perempuan Jawa. Busana ini terdiri atas baju atasan yang dipadu dengan kain. Pada pertengahan abad ke-18, ada dua jenis kebaya yang banyak dipakai masyarakat, yakni kebaya Encim, busana yang dikenakan perempuan Cina peranakan di Indonesia, dan kebaya Putu Baru, busana bergaya tunik pendek berwarna-warni dengan motif cantik.

Pada abad ke-19, kebaya dikenakan oleh semua kelas sosial setiap hari, baik perempuan Jawa maupun wanita peranakan Belanda. Bahkan kebaya sempat menjadi busana wajib bagi perempuan Belanda yang hijrah ke Indonesia.

Menurut perancang busana Ferry Setiawan, pada era 1940-an, kebaya dipilih Presiden Soekarno sebagai kostum nasional. Saat itu, kebaya dianggap busana tradisional perempuan Indonesia dan menjadi lambang emansipasi perempuan Indonesia. Sebab, kebaya merupakan busana yang dipakai oleh tokoh kebangkitan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Tak mengherankan jika pada 21 April setiap tahun, para siswi, remaja putri, dan ibu-ibu tampil mengenakan kebaya.

Kini para perancang busana modern seperti Dhea Panggabean, Anne Avantie, Amy Atmanto, dan perancang busana lainnya mampu merancang kebaya bergaya masa kini. Mereka mampu memodifikasi kebaya menjadi lebih unik dan beragam dengan menghadirkan keanggunan modern, sehingga kebaya juga bisa dikenakan pada saat pesta.

ATE/HP

Sisi Lain Notre Dame de Paris

Notre-Dame de Paris (Foto: bestourism)
Notre-Dame de Paris (Foto: bestourism)
SISI kultural dan religius menjadi penyangga Katedral Notre-Dame, Paris. Sisi profesional menjadi bagian dari napas kehidupan di tengah kehidupan yang keras inilah yang turut menjaga citra Nyonya Kami Parisini sebagai wilayah yang pantas untuk dilirik dan dinikmati.

Siang itu bertepatan pada perayaan Paskah (Fete de Paques) di pelataran Katedral Notre-Dame tampak sepasang kekasih saling berpelukan mesra. Sementara tidak jauh dari mereka, wanita berbusana muslim asyik memberi makanan burung dara dengan cara menaruh makanan di telapak tangannya. Sang merpati dengan lincah memainkan sayapnya dan sesekali hinggap di atas tangan wanita berparas Middle East tersebut.

Sementara itu, di pelataran sayap depan katedral tersebut tampak pelancong berparas Mongolia asyik menikmati foto hasil jepretan mereka. Suasana yang menggambarkan keragaman ras dan religi tersebut menegaskan bahwa katedral Katolik Roma tersebut bukan saja menjadi ikon dan daya tarik umat Katolik. Namun, lebih dari itu, ibarat Candi Borobudur di Tanah Air yang biasa dikunjungi wisatawan yang beragam latar belakangnya, demikian pula Notre-Dame de Paris.

Melirik bangunan yang sudah berusia hampir 1.000 tahun yang dikenal sebagai salah satu gereja Katolik di tengah Kota Paris ini, terasa lebih memberi gereget di tengah suasana perayaan Paskah yang jatuh pada 9 April lalu.

Bagi warga Paris alias le parisien/la parisienne, di kawasan katedral tersebut berdiri, dikenal dengan sebutan Paris 4 alias quatrieme arrondissement. Paris terbagi menjadi 20 wilayah administrasi pemerintahan lokal yang tersebar di segenap penjuru angin Ibu Kota Prancis tersebut. Paris 4 terletak di sayap timur Kota Paris.

Entah bagaimana menjelaskan mengapa gereja yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada pertengahan abad ke-12 atau tepatnya pada tahun 1163 ini, sepanjang tahun diserbu ribuan pengunjung. Yang jelas, bangunan yang baru bisa dirampungkan secara utuh 200 tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1345, masih tampak utuh.

Bisa Anda bayangkan jika sebuah bangunan (sebut: monumen) yang sangat indah berada di dalam kawasan penyangga yang sama indahnya? Anda pasti merasa ”in the middle of no where” yang senantiasa diliputi rasa kagum.

Sisi lain yang dimaksud adalah bagaimana suasana kultural dan lingkungan fisik yang saling bahu-membahu dan menyangga bangunan yang pernah mengalami kerusakan fisik selama revolusi Prancis yang meletus pada tahun 1790. Secara natural, gereja yang arti harfiahnya adalah Nyonya Kami Paris tersebut, terletak di tepi Sungai Seine yang tidak kalah termasyhurnya.

Keindahan sungai yang membelah Kota Paris ini secara kasat mata terletak pada kebersihannya. Kebersihan sebagai wilayah manajerial telah dibuktikan pemerintahan lokal kawasan tersebut, ditambah dengan pengelolaan tata letak dan guna secara komprehensif. Sebut saja ketika pemerintah setempat memanfaatkan aliran sungai tersebut sebagai sarana wisata air. Sepanjang hari puluhan kapal wisata melintas di atas aliran sungai tersebut. Sementara di beberapa titik yang telah ditentukan, para pelancong bisa menikmati menu restoran terapung sambil menikmati keindahan Sungai Seine.

Keindahan sungai terasa bertambah-tambah dengan hadirnya jembatan (pont: baca pong) penyeberangan yang terpelihara kebersihan dan keindahan seni carving-nya yang ada di setiap ujung fondasi jembatan—pada umumnya didominasi bentuk kepala manusia. Gereja dengan corak Gotik Roman ini menghadap ke arah Barat.Persis di pelataran bangunan yang pada awalnya dibangun dengan semangat rivalitas dengan Kota Roma, Italia,ini terdapat sebuah situs yang amat masyhur,yaitu Point Zero alias Paris 0 km.

Entah sudah berapa juta pasang sepatu yang telah menginjak-injak lingkaran yang dengan pelat tembaga di tengahnya. Yang jelas, sebagian pengunjung percaya bahwa titik nol tersebut bertuah. Pelataran tersebut juga menjadi saksi bisu atas kesabaran para pengunjung katedral yang rela menjadi bagian dari antrean panjang sebelum mereka bisa memasuki gedung yang sangat termasyhur tersebut.

Sementara, di sepanjang sayap utara tampak bangunan yang lebih kecil yang sangat terpelihara. Sayap inilah yang berhadapan dengan Sungai Seine dan di sepanjang pelataran yang membujur ke arah barat timur inilah terlihat taman yang berfungsi sebagai ruang edukasi dan rekreasi bagi anak-anak dan balita. Hal ini tampak dengan adanya sarana bermain, di antaranya halaman berpasir, aneka rupa ayunan, dan poster dengan tema La biodiversite.

Tidak salah kiranya dengan ucapan spontan Mang Dadang, mantan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Paris yang sedang bergelut dengan program doktoral di bidang geografi tersebut bahwa Paris benar-benar ditata dengan mengoptimalkan fungsi kecerdasan para pengelolanya.

Pendapat pria Sunda tersebut muncul pada saat mencermati kerumitan tata kelola kereta bawah tanah Paris—biasa disebut Metro—yang mencacah wilayah bawah tanah Paris menjadi terowongan raksasa yang saling silang secara rumit. Plus tata kelola kebersihan, ruang iklan, dan drainase bawah tanah.

Keunikan kawasan penyangga katedral tampak pula pada ribuan ”gembok cinta” yang digantung di sepanjang jembatan yang menghubungkan Bantaran Utara-Selatan Sungai Seine. Siang itu beberapa orang mencermati aneka gembok yang beraneka ragam dengan nama yang tertera di setiap gembok tersebut.

Siang itu perayaan Paskah di Paris ditandai dengan hujan rintik dan mendung tebal di atas langit kota mode dan parfum tersebut. Tampak anak berusia sekitar 10 tahun menikmati penampilan para pengamen ”profesional”  jalanan.

Para peminat musik jazz Tanah Air, begitu mendengar irama musik yang renyah dan dinamis dengan cord yang terputus-putus tersebut, segera teringat gaya permainan Ireng Maulana dan kawan-kawan.Penampilan  mereka tidak ubahnya sebagai pemain musik profesional. Selain mengincar uang receh para penonton, mereka juga menjajakan CD yang merekam karya musikal mereka. Bagi Hangga, mahasiswa asal Indonesia yang mendalami ilmu ekonomi studi pembangunan ini, kontribusi bidang wisata bagi pemerintah Prancis cukup signifikan.

”Sekitar 30 persen,” ujar mahasiswa dengan logat Sunda yang kental. ”Namun, kontribusi terbesar pada APBN pemerintah Prancis adalah ekspor barang yang berbasis pada high-tech, termasuk pesawat Airbus,” lanjut Hangga.

Jean Max, seorang pengunjung dari Kota Lyon, kota terbesar kedua/ketiga setelah Paris dan Marseille, sedikit melenguh. Hal ini terjadi setelah melihat daftar harga minuman di kafe Limonade. ”Cest Cher,” ujarnya perlahan.

Memang harga minuman di kawasan wisata tersebut hampir melipat dua kali dibandingkan harga rata-rata. Sebut saja harga kopi expresso dibanderol 3,5 euro atau setara dengan 40.000 lebih. Adapun harga rata-rata, minuman yang sama adalah 1,6 sampai 1,8 euro. Kafe ini terletak di ujung rue Saint Louis en L’ile. Jalan ini tertetak di sebelah timur salah satu katedral terbesar di dunia tersebut.

Laporan Koresponden SINDO Adam Harnadi Paris, Prancis

(SINDO//ftr)

Survei Wisatawan Australia, Indonesia Masih Terfavorit

Bali masih jadi favorit turis Australia (Foto: perthnow)
Bali masih jadi favorit turis Australia (Foto: perthnow)
MENURUT statistik Australian Bureau of Statistics (ABS), Indonesia masih menjadi destinasi wisata favorit warga Australia untuk kawasan Asia. Namun, bukan tidak mungkin posisi tersebut bergeser dan tergantikan oleh negara lain seperti Thailand.

Karena pemandangan pantai yang indah serta transportasi yang cenderung murah, negara-negara Asia di sekitar Australia masih menjadi pilihan bagi warga Negara Kangguru itu. Namun, wisatawan Australia nampaknya terus mencari destinasi-destinasi baru sebagai alternatif.

Saat ini, Bali masih menempati peringkat pertama sebagai destinasi terbanyak yang dikunjungi warga Australia pada 2011. ABS mencatat, 900.000 warga Australia mengunjungi Indonesia sepanjang tahun lalu.

Kini, warga Australia mulai melihat alternatif destinasi wisata lain di Asia. Filipina, India, dan Singapura adalah beberapa di antaranya. Tahun lalu, kunjungan warga Australia ke Filipina meningkat 19 persen, kunjungan ke India meningkat 15 persen, dan 8 persen ke Singapura.

Myanmar pun turut menjadi destinasi yang mulai dililrik karena negara ini sudah mulai membuka diri terhadap wisatawan asing setelah bertahun-tahun mengalami konflik politik dalam negeri.

"Turis Australia terkenal sebagai wisatawan petualang, senang berburu kuliner, serta mejelajah budaya dan sejarah Asia," tutur Paul Hole, Agen Pariwisata Indochina, seperti dikutip dari News, Rabu (18/4/2012). "Selain murah dan pemandangannya indah, masyarakat yang ramah juga menjadikan Asia favorit warga Australia," lanjutnya.

Dalam survei ABS, Indonesia menempati peringkat pertama, diikuti berturut-turut oleh Thailand, China, Singapura, dan Malaysia. Hongkong dan Vietnam menempati peringkat keenam dan tujuh sedangkan India dan Filipina menempati peringkat delapan dan sembilan. Sementara Jepang menempati peringkat ke-10 akibat gempa yang mengguncang negara ini tahun lalu.
(ftr)

Turis Ini Keliling 11 Negara Tanpa Keluar Uang Sepeserpun

Untuk keliling dunia gratis, Wiggie rela jadi 'sofa manusia' (Foto: News)
Untuk keliling dunia gratis, Wiggie rela jadi 'sofa manusia' (Foto: News)
PERNAHKAH Anda bermimpi untuk berwisata keliling dunia namun urung karena kurang biaya? Wisatawan asal Jerman, Michael Wigge, akan berbagi solusinya.

Wigge meninggalkan rumahnya di Jerman untuk berwisata ke 11 negara dan menempuh jarak 40.000 kilometer, tanpa biaya sepeser pun. Bagaimana dia melakukannya? Menurut Wigge, kuncinya adalah berpikir di luar kebiasaan.

Selama perjalanan keliling dunia selama 150 hari, Wigge melakukan berbagai hal unik, seperti menjadi sofa, menolong turis lain, dan laiinya, semua demi mendapatkan uang, makanan, dan tempat tinggal.

"Meski tidak ada uang, semuanya mungkin dilakukan. Saya telah membuat mimpi saya menjadi kenyataan," tutur Wigge, seperti dikutip dari News, Kamis (19/4/2012).

Menjadi 'sofa manusia'

Wigge mengatakan cara untuk mendapatkan makanan dan minuman gratis adalah berpikir di luar kebiasaan. Dalam perjalanannya keliling dunia, beberapa kali ia menawarkan kepada turis lain untuk menjadikan tubuhnya sebagai sofa sehingga mereka dapat beristirahat di tengah jalan. Hal ini menjaminnya tidak kelaparan dan kehausan dalam perjalanan.

Perang bantal
Ketika berada di San Fransisco dan bersiap menuju Amerika Tengah, Wigge dihadapi kenyataan harus membayar tiket penerbangan seharga Rp3 juta. Tak kehabisan akal, ia kemudian ke bandara dan membawa bantal untuk melakukan perang bantal. Dengan cara ini, dia mendapatkan imbalan dari orang-orang lewat yang melihatnya. Ia berhasil mendapatkan uang untuk tiket ke Amerika Tengah.

Jadi porter

Untuk mencapai situs kuno Machu Picchu di pegunungan Andes, Wigge harus membayar sejumlah uang untuk melakukan pendakian. Untuk menghindari hal ini, ia menjadi porter bagi turis lain dan membawakan barang-barang mereka dari bawah hingga ketinggian 4267 meter.

Bekerja di kedutaan

Ini mungkin cara yang paling efektif. Ketika berada di Panama, Wigge mengunjungi Kedutaan Jerman di negara tersebut dan menawarkan diri untuk bekerja sebagai pelayan. Ia bekerja menghidangkan wine, membukakan pintu bagi tamu besar, dan membersihkan kolam.

Uang yang didapatnya dari bekerja di kedutaan ini memberinya cukup banyak uang untuk membeli tiket penerbangan ke tempat selanjutnya.
(ftr)

Uluyu.com, Situs Kupon Gratis Asli Indonesia

detail berita
Tampilan Uluyu.com
JAKARTA - Ditengah maraknya situs diskon saat ini, PT Genesis Indojaya meluncurkan Uluyu.com, situs pertama di Indonesia yang memberikan kupon diskon setiap hari.

Kupon gratis yang disediakan bagi ULUfrens - panggilan hangat bagi para pengguna Uluyu.com di enam kategori kupon di Uluyu.com; yaitu kategori kursus dan jasa, kuliner, travel, produk, hiburan, serta kesehatan dan kecantikan. Setiap kupon di masing-masing kategori memberikan diskon mulai dari 20 persen hingga 90 persen (bergantung pada setiap tawaran merchant)

“Untuk saat ini Uluyu.com fokus memberikan kupon diskon gratis di wilayah Jakarta, yang nantinya akan diperluas ke kota-kota besar yang ada di Indonesia,” ujar David Suwarto, pendiri sekaligus CEO Uluyu.com.com, dikutip melalui keterangan resminya, Selasa (28/2/2012).

Dengan menggunakan kupon diskon dari Uluyu.com, para pebelanja tidak perlu repot membeli dan mencetak kupon diskon untuk memperoleh potongan harga dalam berbelanja. Hanya dengan mendaftarkan diri menjadi ULUfrens, klik ULUpon (Uluyu Kupon) yang diinginkan, lalu tukar kode rahasia di merchant tertentu untuk mendapatkan produk atau layanan dengan diskon istimewa.

Disamping itu, Uluyu.com juga menyediakan fitur ULU$ (baca: ULUDollar) dan ULUBadges. Dimana, pengguna ULUpon mendapatkan sebesar 10 persen dari nilai kupon yang digunakan. Setelah mencapai nilai nominal tertentu, maka ULU$ dapat ditukar dengan hadiah tertentu.

Keunggulan dari ULU$ adalah jumlah poin tidak akan habis bila ditukarkan. Sedangkan ULUBadges adalah reward berupa badge yang dapat diperoleh bila ULUfrens berhasil menaklukkan tantangan tertentu.

“Uluyu.com menawarkan cara belanja cerdas bagi para pebelanja. Menikmati berbelanja, memperoleh produk dengan harga istimewa, sehaligus memperoleh hadiah tambahan,” imbuh David. (tyo)

Minggu, 01 Januari 2012

Sejarah Lurik



Lurik merupakan nama kain, kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garisgaris, yang merupakan lambang kesederhanaan. Sederhana dalam penampilan maupun dalam pembuatan namun sarat dengan makna (Djoemena, Nian S., 2000).

Selain berfungsi untuk menutup dan melindungi tubuh, lurik juga memiliki fungsi sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Motif lurik yang dipakai oleh golongan bangsawan berbeda dengan yang digunakan oleh rakyat biasa, begitu pula lurik yang dipakai dalam upacara adat disesuaikan dengan waktu serta tujuannya.


Nama motifnya diperoleh dari nama flora, fauna, atau dari sesuatu benda yang dianggap sakral. Motif lurik tradisional memiliki makna yang mengandung petuah, cita-cita, serta harapan kepada pemakainya. Namun demikian saat ini pengguna lurik semakin sedikit dibandingkan beberapa puluh tahun yang lalu. Perajinnya pun dari waktu ke waktu mulai menghilang.

Lurik menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) adalah suatu kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang.
Kata lurik berasal dari akar kata rik yang artinya garis atau parit yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), lurik adalah kain tenun yang memiliki corak jalurjalur, sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Jawa(Mangunsuwito:20 02) pengertian lurik adalah corak lirik-lirik atau lorek-lorek, yang berarti garis-garis dalam bahasa Indonesia.

Dan berbagai definisi yang telah disebutkan di atas, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lurik merupakan kain yang diperoleh melalui proses penenunan dari seutas benang (lawe) yang diolah sedemikian rupa menjadi selembar kain katun. Proses yang dimaksud yaitu diawali dari pembuatan benang tukel, tahap pencelupan yaitu pencucian dan pewarnaan, pengelosan dan pemaletan, penghanian, pencucuk-an, penyetelan, dan penenunan. Motif atau corak yang dihasilkan berupa garis-garis vertikal maupun horisontal yang dijalin sedemikian rupa sesuai warna yang dikehendaki dengan berbagai variasinya.
Tidak banyak ditemui tulisan mengenai kain tenun lurik. Hanya ada beberapa saja, antara lain yang ditulis oleh Nian S.Djoemena dalam bukunya yang berjudul Lurik, Garis-garis Bertuah. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai proses pembuatan kain lurik beserta alat yang digunakan. Selain itu, diuraikan pula mengenai macam macam motif lurik, makna, waktu pemakaian, dan fungsinya secara garis besar terutama dalam acara ritual keagamaan dan dalam upacara perkawinan. Lurik yang diuraikan dalam buku tersebut tidak hanya terbatas pada motif lurik Yogyakarta, ada pula motif Jawa Tengah dan Tuban, ada pula motif irip lurk yang terdapat di luar Jawa maupun Juan Indonesia.

Namun, buku ini belum menjelaskan lebih lanjut mengenai perkembangan lurik saat ini dan usaha pelestariannya. Kain lurik merupakan kain tenun dengan motif garisgaris pada sehelai kain. Kata Lurik berasal dari bahasa Jawa yaitu lorek yang berarti lajur atau garis (Djoemena, Nian.S: 2000). Namun pakaian atau kain dengan motif lorek tidak dapat secara langsung disebut lurik, karena lurik harus memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan bahan tertentu dan diolah melalui proses tertentu pula, mulai dari pewarnaan, pencelupan, pengkelosarf, pemaletan, peghanian, pencucukan, penyetelan, sampai pada penenunan, hingga nantinya menjadi kain yang slap dipakai.

Motif kain lurik ternyata tidak hanya berupa garis-garis membujur saja, tetapi dalam perkembangannya kemudian, motif kotak-kotak sebagai hasil kombinasi antara garis melintang dengan garis membujur dapat dikategorikan sebagai lurik.

Tidak hanya berupa garis, motif kain lurik ada juga yang berupa kotak-kotak yang merupakan perpaduan dua garis vertikal dan horisontal yang pada kain tenun yang bercorak garis atau kotak saja, akan tetapi termasuk pula kain polos dengan berbagai warna, seperti merah dan hijau atau dikenal dengan nama lurik polosan. Seperti apa yang diungkapkan Dibyo bahwa “Sifat lurik yaitu: bahannya dari katun, gambar garis, tetapi kadang bikin kotak-kotak, ataupun polos. Meskipun polos, namanya tetap lurik.”

Nilai Kehidupan
Salah satu keunggulan manusia adalah bahwa ia memiliki daya kreatif untuk membuat, membentuk apa yang ada di sekelilingnya, kemudian diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Daya kreativitas tersebut merupakan bagian yang penting dalam proses berkarya seni. Seni merupakan kegiatan kreatif imajinasi manusia untuk menerangkan, memahami, dan menikmati kehidupan (Haviland:1993). Dengan daya kreatif yang dimilikinya, manusia berusaha menciptakan pakaian yang dibuat dari kapas atau bahan lain, kemudian ditenun menjadi kain. Kain dijahit menjadi pakaian.

Seni memiliki tujuan praktis. Tujuan praktis ini merupakan guna atau manfaat yang diperoleh secara langsung bagi penggunanya. Tujuan praktis dari pakaian yaitu untuk melindungi tubuh dari hawa dingin, gigitan serangga, terik matahari dan berbagai gangguan lainnya. Selain itu seni memiliki fungsi sebagai norma perilaku yang teratur, meneruskan adat kebiasaan dan nilai-nilai budaya (Haviland:1993). Dalam adat berpakaian, seperti dalam penggunaan kain lurik, terdapat nilai budaya yang akan disampaikan dan untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya.

Pada suatu masyarakat tradisional, selain memiliki fungsi guna atau manfaat, pakaian seringkali memiliki fungsi lain seperti fungsi status simbol, maupun ritual keagamaan, pada motif- motif tertentu terdapat kandungan nilai, harapan, dan sebagainya.

Orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi berbeda pakaiannya dengan orang yang status sosialnya lebih rendah, pakaian yang dikenakan seorang bangsawan berbeda dengan rakyat biasa, entah itu berbeda model maupun motifnya. Begitu pula pakaian yang dipakai untuk upacara tertentu berbeda dengan yang dipakai pada hari biasa.

Sesuai dengan keanekaragaman umat manusia, pakaian yang digunakan juga bermacam-macam dan bervariasi. Pada masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai tradisinya seperti yang terdapat pada kelompok-kelompok suku bangsa di Indonesia, pakaian yang digunakan menunjukkan identitas dari suatu suku bangsa.

Dalam hal ini pakaian bukanlah semata-mata sebagai suatu benda materi yang hanya dipakai tanpa memiliki arti apapun. Kain lurik misalnya, merupakan suatu simbol karena ia memiliki makna. Simbol merupakan tanda yang dapat ditafsirkan (Geertz:1992,17) atau diekplanasikan. Makna-makna tersebut merupakan sesuatu yang tidak tampak tetapi dapat dilihat melalui penafsiranpenafsiran, pemahaman-pemahaman yang kemudian ditata sedemikian rupa. Simbol merupakan segala sesuatu (benda, peristiwa, tindakan, ucapan, dan sebagainya) yang telah ditempeli arti tertentu. Simbol bukan milik individu, namun milik suatu kelompok masyarakat. Kelompok masyarakat tersebut terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki sistem pengetahuan, gagasan, ide, adat kebiasaan serta norma perilaku yang sama, yang diungkapkan dalam tata cara kehidupan manusia yang terwujud dalam benda-benda budaya.

Kain tenun lurik merupakan salah satu benda budaya karena dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu. Benda ini merupakan wujud fisik dari ide, nilai, maupun norma yang mengatur dan memberi arah bagi masyarakat pada suatu kebudayaan tertentu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Koentjaraningrat (2000) bahwa terdapat tiga wujud kebudayaan, yaitu norma sebagai tata kelakuan yang mengatur dan memberi arah, aktivitas yang berpola, dan benda hasil karya manusia sebagai wujud fisiknya.

Manusia tidak dapat terlepas dari simbol, karena manusia adalah binatang yang terjerat dalam jaringan-jaringan makna yang ditenunnya sendiri (Geertz:1992). Di setiap waktu dan disegala tempat, manusia selalu berhubungan dengan simbol atau lambang karena is berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapanungkapan simbolis (Herusatoto: 1987). Simbol atau lambang ini merupakan hal yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Menurut Ernst Cassirer (1944) bahwa manusia tidak dapat melihat„ menemukan, dan mengenai dunia secara langsung tetapi melalui berbagai simbol.

Simbol yang terwujud dalam benda-benda budaya, dalam hal ini adalah kain tenun lurik merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat pendukungnya. Melalui kain lurik ini terdapat pesan, nasihat dan panduan hidup yang disampaikan dan diharapkan nantinya dapat terus diteruskan ke generasi selanjutnya. Terdapat beberapa hal mengenai simbol seperti ditulis oleh C.A Van Peursen (1976), bahwa simbol atau lambang memperlihatkan kaidah dalam perbuatan manusia. Kaidah itu berhubungan dengan seluruh pola kehidupan, perbuatan, dan harapan manusia. Simbol muncul ketika manusia sedang belajar dan untuk menampung hasil belajarnya manusia menggunakan media bahasa, baik bahasa lisan, tulisan, gerak, maupun visual.

Pengetahuan yang diperoleh manusia dari hasil belajar semakin lama semakin bertambah. Untuk mempermudah penyerapan pengtahuan yang semakin banyak tersebut, bahasa kemudain dialihkan menjadi lambang, simbol abstrak. Pengertian bahasa disini menjadi meluas meliputi berbagai bentuk lambang berupa tarian, gambar, kata, maupun isyarat. Lambang yang diungkapkan melalui media bahasa ini digunakan dalam rangka meneruskan, mewariskan ajaran kepada generasi setelahnya. Dari simbol yang terdapat pada kain lurik ini dapat ditemukan harapan, ungkapan, pelajaran positif yang dapat diambil dan dijadikan pelajaran bagi generasi selanjutnya dalam menentukan langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Meskipun saat ini tidak banyak lagi yang mengetahui apa makna dibalik motif lurik, namun ada sebagian orang yang berusaha bertahan untuk membuat dan mengenakannya baik dalam acara-acara tertentu, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah Lurik
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997) disebutkan bahwa lurik diperkirakan berasal dari daerah pedesaan di Jawa, tetapi kemudian berkembang, tidak hanya menjadi milik rakyat, tetapi juga dipakai di lingkungan keraton. Pada mulanya, lurik dibuat dalam bentuk sehelai selendang yang berfungsi sebagai kemben (penutup dada bagi wanita) dan sebagai alat untuk menggendong sesuatu dengan cara mengikatkannya pada tubuh, sehingga kemudian lahirlah sebutan lurik gendong.

Dan beberapa situs peninggalan sejarah, dapat diketahui bahwa pada masa Kerajaan Majapahit, lurik sudah dikenal sebagai karya tenun waktu itu. Bahwa lurik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lampau, dapat dilihat dari cerita Wayang Beber yang menggambarkan seorang ksatria melamar seorang putri Raja dengan alat tenun gendong sebagai mas kawinnya. Keberadaan tenun lurik ini tampak pula dalam salah satu relief Candi Borobudur yang menggambarkan orang yang sedang menenun dengan alat tenun gendong. Selain itu adanya temuan lain, yaitu prasasti Raja Erlangga dari Jawa Timur pada tahun 1033 menyebut kain Tuluh Watu sebagai salah satu nama kain lurik (Djoemena, Nian.S:2000).

Pada awalnya, motif lurik masih sangat sederhana, dibuat dalam warna yang terbatas, yaitu hitam, putih atau kombinasal antarkeduanya. Pada jaman dahulu proses pembuatan tenun lurik ini dimulai dari menyiapkan bahan yaitu benang (lawe).

Benang ini berasal dari tumbuhan perdu dengan warna dominan hitam dan putih. Selanjutnya, benang tadi diberi warna dengan menggunakan pewarna tradisional, yaitu yang bernama Tarum) dan dari kulit batang mahoni. Hasil rendaman daun pohon Tom menghasilkan warna nila, biru tua, dan hitam, sedangkan kulit batang mahoni menghasilkan warna coklat.


Sebelum ditenun, benang dicuci berkali-kali, kemudian dipukul-pukul hingga lunak (dikemplong), setelah itu dijemur, lalu dibaluri nasi dengan menggunakan kuas yang terbuat dari sabut kelapa. Setelah bahan atau benang ini kaku, kemudian diberi warna. Setelah itu dijemur kembali dan benang siap untuk ditenun. Dahulu, alat yang digunakan untuk menenun dikenal dua macam alat, yaitu alat tenun bendho dan alat tenun gendong.

Adapun alat tenun bendho terbyat dari bambu atau batang kayu, biasanya digunakan untuk membuat stagen. Stagen yaitu ikat pinggang dari tenunan benang yang sangat panjang dan digunakan untuk pengikat kain (jarik) oleh para wanita Jawa. Alat tenun ini digunakan dengan posisi berdiri. Disebut sebagai alat tenun bendho karena alat yang digunakan untuk merapatkan benang pakan berbentuk bendho (golok), sedangkan alat tenun gendong digunakan untuk membuat bahan pakaian, selendang lebar, maupun jarik (kain panjang). Disebut demikian karena salah satu bagiannya diletakkan di belakang pinggang, sehingga tampak seperti digendong. Dalam proses pembuatan kainnya, penenun dalam posisi duduk memangku alat tenun tersebut.

Dahulu, kain lurik dipakai hampir oleh semua orang, sebagai busana sehari-hari. Untuk wanita dibuat kebaya, atau tapih/nyamping/jarik (kain untuk bawahan). Untuk pria, sebagai bahan baju pria, di Solo disebut dengan beskap, sedangkan di Yogyakarta dinamakan dengan surjan. Selain itu, lurik juga dibuat selendang (jarik gendong) yang biasanya dipakai oleh bakul (pedagang) di pasar untuk menggendong tenggok (wadah yang terbuat dari anyaman bambu), terutama di daerah Solo dan Klaten Jawa Tengah. Selain dibuat untuk bahan pakaian ataupun selendang, yang lebih penting lagi bahwa kain lurik ini dahulu digunakan dalam upacara yang berkaitan dengan kepercayaan, misalnya labuhan ataupun upacara adat lain seperti ruwatan, siraman, mitoni, dan sebagainya.

Beberapa Macam Corak Lurik
Meskipun motif lurik ini hanya berupa garisgaris, namun variasinya sangat banyak. Terdapat banyak ragam motif kain lurik tradisional, seperti yang ditulis oleh Nian S.Djoemena (2000) mengenai nama-nama corak, yaitu antara lain: corak klenting kuning, sodo sakler, lasem, tuluh watu, lompong keli, kinanti, kembang telo, kembang mindi, melati secontong, ketan ireng, ketan salak, dom ndlesep, loro-pat, kembang bayam, jaran dawuk, kijing miring, kunang sekebon, dan sebagainya.


Dalam Ensiklopedi Indonesia (1997) di-sebutkan pula beberapa motif seperti ketan ireng, gadung mlati, tumenggungan, dan bribil. Dalam perkembangannya muncul motif- motif lurik baru yaitu: yuyu sekandang, sulur ringin, lintang kumelap, polos abang, polos putih, dan masih banyak lagi. Motif yang paling mutahir adalah motif hujan gerimis, tenun ikat, dam mimi, dan galer.

Dahulu macam ragam corak lurik sangat banyak, tetapi sekarang banyak yang sudah terlupakan. Tidak semua orang termasuk para perajin lurik yang ada sekarang ini tahu dan ingat motif apa saja yang pernah ada, seperti yang dialami oleh Pak Dibyo. Saat ini perusahaan tenun lurik seperti milik Bapak Dibyo Sumarto, yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia tidak membuat motif lurik seperti yang disebutkan di atas, karena peminatnya tidak ada lagi. Motif-motif lurik yang sekarang dibuat lebih bervariasi, disesuaikan dengan warna-warna yang sedang disukai atau sedang trend. Jadi, motif atau corak lurik yang ia buat cenderung selalu berubah dan makin berkembang.

Beberapa motif disesuaikan dengan yang dikehendaki oleh para pembeli. Begitu pula dengan perusahaan tenun lurik yang dikelola oleh Ibu Nur. Beliau bahkan tidak banyak membuat motif tenun jika tidak ada pesanan. Beberapa kain lurik ia buat saat ini lebih banyak untuk seragam sekolah dan selendang. Begitu pula dengan perusahaan tenun Kurnia yang lebih banyak mendapatkan pesanan dari sekolah-sekolah yang membutuhkan seragam. Selain itu pembelinya kebanyakan dari siswa sekolah yang sedang praktek tata busana.

Namun demikian, perusahaan tenun ini masih membuat beberapa kain lurik tradisional yang masih dipakai dari jaman dulu hingga sekarang, yaitu yang dipakai di lingkungan keraton seperti yang dikenakan oleh para abdi dalem dan para prajuritnya.

Motif yang dipakai para abdi dalem kerajaan tersebut dinamakan corak telu-pat atau tiga empat dalam bahasa Indonesia. Pakaian dengan motif ini dinamakan baju peranakan. Baju ini dikenakan oleh mereka ketika sowan atau caos (menghadap raja). lain kluwung, gedog madu, sulur ringin, atau tuluh watu. Selain itu, ada pula motif lurik lain yang juga hanya digunakan oleh orang-orang tertentu pada waktu tertentu pula, yaitu yang dikenakan oleh abdi dalem dan para punggawa keraton. Ketika menghadiri pisowanan (mengahadap raja), para abdi dalem memakai baju peranakan dengan motif telu pat, sedangkan para prajurit keraton masingmasing juga memakai motif lurik yang telah ditentukan. Prajurit Jogokaryan memakai motif Jogokaryo, prajurit Mantrijeron memakai motif mantrijero, begitu pula dengan prajurit Patangpuluhan memakai motif patangpuluh.

Seperti yang diutarakan oleh Pak Dibyo bahwa “Motif keraton memang memiliki corak tersendiri. Ada yang me-namakannya lurik tiga empat, untuk para abdi dalem. Nama motifnya yaitu tiga empat, untuk per-anakan…prajurit keraton antara lain mantrijero, jogo-karyo, patangpuluh. Motifnya sendiri-sendiri. Motif untuk abdi dalem untuk caos atau sowan yaitu motif tiga empat.”
Motif lurik untuk prajurit kraton lainnya adalah motif ketanggung yaitu yang dikenakan oleh prajurit Ketanggungan. Mengenai motif yang tidak boleh dipakai oleh setiap orang dikatakan oleh Ibu Nur, “Ya seperti yang dipakai oleh para abdi dalem, peranakan, hanya dipakai oleh kalangan keraton. Tidak bisa dipakai umum.”

Namun saat ini, menurut apa yang dituturkan oleh Pak Dibyo, bahwa para pembeli bebas memilih motif mana yang dikehendaki. Pembeli boleh memakai kain lurik dengan berbagai macam corak, entah itu yang semestinya di pakai untuk sowan atau caos, ataupun yang digunakan untuk prajurit keraton.
Untuk saat ini, biasanya motif lurik yang tidak boleh dikenakan atau dijual untuk umum yaitu yang dipakai untuk seragam sekolah, karena motif tersebut sudah merupakan identitas atau ciri khas sekolah yang bersangkutan.

Lurik Masa Kini 
Tidak seperti beberapa puluh tahun yang lalu, saat ini tidak banyak masyarakat yang menaruh minat pada lurik terutama untuk dikenakan sebagai busana sehari-hari. Hal ini tampak pada surutnya jumlah pesanan di beberapa perusahaan tenun lurik yang ada di Yogyakarta. Bahkan di beberapa tempat, perusahaan tenun lurik tradisional banyak yang gulung tikar. Seperti yang terjadi di daerah Krapyak Wetan.

Dahulu, di sekitar wilayah tersebut banyak rumah atau tempat produksi tenun lurik, namun sekarang yang tertinggal hanya satu yaitu perusahaan tenun lurik Kurnia yang dimiliki Bapak Dibyo. Menurut cerita masyarakat setempat, di dusun Mlangi, Kabupaten Sleman pernah berdiri perusahaan tenun lurik tradisional, tetapi saat ini sudah tidak ada lagi. Beberapa tempat lain yang diperkirakan masih terdapat tempat pembuatan tenun lurik, yaitu di dusun Nggamplong, Godean, Sleman, atau di beberapa tempat di Kabupaten Kulonprogo.

Dahulu di sana banyak ditemui perusahaan tenun lurik, namun sekarang jika masih ada jumlahnya sangat sedikit. Menurut beberapa orang, berbagai macam motif yang dulu pernah dibuat, sekarang sudah tidak dibuat lagi karena peminatnya pun sudah tidak ada. Banyak perajin di perusahaan tenun tradisional yang sudah berusia lanjut, tetapi tidak ada regenerasi perajin untuk meneruskan keahliannya tersebut.
Saat ini orang lebih memilih pekerjaan lain dari pada menenun. Dahulu, ketika seorang perajin menenun, ketika ada waktu senggang ia minta anaknya untuk ikut menenun. Si anak diberi pelajaran sedikit demi sedikit, sehingga lama kelamaan ia bisa meneruskan pekerjaan orang tuanya. Tetapi saat ini hal ini sudah sulit dilakukan. Generasi muda tidak lagi mau menenun, lebih memilih pekerjaan lainnya.

Kondisi ini mendorong seorang mendorong beberapa desainer seperti Ninik Darmawan, kelompok Lawe, PPPPTK Seni dan Budaya untuk mengembangkan produk tekstil dengan bahan dasar lurik untuk diangkat kembali menjadi produkproduk modern, yang tidak hanya terbatas untuk pakian saja, tetapi lurik dijadikan sebagai bahan tas, dompet, map, dan lain sebagainya. Untuk busana desainer Ninik Darmawan telah mengembangkan beberapa fashion seperti gaun panjang, kemeja pria, rok, jaket, dan sebagainya. Beberapa pakaian merupakan gabungan motif lurik dengan kain batik.

Ninik mengembangkan kain tenun lurik tersebut karena kain yang bercorak garis-garis ini memiliki nilai kesederhanaan. Kain yang tebuat dari bahan katun tersebut sebenarnya juga sangat cocok dengan iklim di Indonesia. Tetapi memang kesan bahwa lurik merupakan pakaian rakyat cukup kental. Apa yang hendak disampaikannya melalui setiap desainnya yaitu bahwa motif lurik ini sebenarnya dapat dikembangkan dan dapat dikenakan di berbagai tempat dan waktu. Menurutnya dengan sentuhan desain, kain tersebut dapat diolah, dikembangkan, dijadikan busana masa kini, tanpa merubah arti atau makna yang terkandung di dalamnya.

Produk-produk tekstil dari bahan lurik dengan desain baru yang indah, tidak kalah menariknya apabila dibandingkan dengan busana-busana dari bahan batik atau bahan lainnya. Ternyata lurik menyimpan kekuatan yang begitu dahsyat, sebagai bagian dari kehidupan masa kini. Apa yang dilakukan Ninik Darmawan, Lawe, dan PPPPTK Seni dan Budaya sebagai suatu bentuk transformasi budaya, yang mengangkat budaya lama Indonesia menjadi suatu budaya baru dengan tidak meninggalkan kekayaan yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Tradisi bukanlah suatu barang yang mati, tetapi ia berkembang dan menjelma menjadi ujud baru mengikuti perubahan jaman. Tradisi melayani kebutuhan kehidupan manusia, sehingga tradisi harus sesuai dengan jiwa jamannya, tradisi yang tidak berubah akan menghambat perkembangan dan akan menjadi nilai atau produk yang basi.

Dengan demikian seni tradisi seperti lurik harus dapat melayani kehidupan manusia masa kini, sehingga lurik akan lebih bermakna dan bermanfaat bagi kehidupan dari masa ke masa. Tulisan ini semoga memberi inspirasi kepada desainer di berbagai tempat di Indonesia, untuk mengangkat tenun daerah menjadi bagian kehidupan modern, mengingat Indonesia begitu kaya dengan berbagai macam tekstil khususnya tenun, kita akan temukan berbagai ragam tenun yangt indah sejak tanah Papua sampai dengan Nangroe Aceh Darussalam. Semoga kekayaan tersebut tidak menjadi kesepian dan mati, tetapi menjadi enerji baru yang memberi kesegaraan sebagai sebuah bangsa yang kaya dan besar..***
Sumber : Majalah ARTISTA No. 1 & 2 Vol. 10 Th. 2007